Minggu, 12 Mei 2013

MODEL PEMBELAJARAN JEROLD E. KEMP


A.    Profil Jerold E. Kemp
Kemp Jerrold sudah pensiun dari posisi sebagai profesor pendidikan dan koordinator produksi media dan jasa pengembangan instruksional di San Jose State University, pekerjaan yang dipegangnya selama 30 tahun. Seorang mantan presiden Asosiasi untuk Pendidikan Komunikasi dan Teknologi, ia adalah penulis atau co-penulis lima buku dan telah berkonsultasi pada proyek-proyek pendidikan yang inovatif dan praktek di sejumlah sekolah, universitas, dan lembaga-lembaga di negara-negara asing dan UNESCO. Dr Kemp adalah TECHNOS Tahun 2000 Author Pers.
B.     Model Pembelajaran Jerold E. Kemp
Kemp mengembangkan model desain instruksional yang paling awal bagi pendidikan. Menurut Kemp, desain pembelajaran terdiri dari banyak bagian dan fungsi yang saling berhubungan dan mesti dikerjakan secara logis agar mencapai apa yang diinginkan.
Berorientasi pada perancangan pembelajaran yang menyeluruh. Sehingga guru sekolah dasar dan sekolah menengah, dosen perguruan tinggi, pelatih di bidang industry, serta ahli media yang akan bekerja sebagai peerancang pembelajaran. Model Kemp adalah sebuah pendekatan yang mengutamakan sebuah alur yang dijadikan pedoman dalam penyusunan perencanaan program. Dimana alur tersebut merupakan rangkaian yang sistematis yang menghubungkan tujuan hingga tahap evaluasi. Komponen-komponen dalam model pembelajaran Kemp ini dapat berdiri sendiri, sehingga sewaktu-waktu tiap komponennya dapat dilakukan revisi. Ada empat unsur yang merupakan dasar dalam membuat model Kemp:
1.      Untuk siapa program itu dirancang? (ciri pebelajar)
  1. Apa yang harus dipelajari? (tujuan yang akan dicapai)
  2. Bagaimana isi bidang studi dapat dipelajari dengan baik? (metode/strategi pembelajaran)
  3. Bagaimana mengetahui bahwa proses belajar telah berlangsung? (evaluasi)


C.    Disain Model Pembelajaran Jerold E. Kemp
Rencana pembelajaran didesain untuk menjawab tiga pertanyaan, ini merupakan pertanyaan terhadap hal-hal yang diperlukan dalam mendesain pembelajaran yaitu:
1.      Apa yang akan diajarkan?
2.      Apa prosedur dan sumber yang bisa untuk menjangkau mutu pembelajaran yang diinginkan?
3.      Bagaimana caranya kita untuk mengetahui nilai yang diperoleh dari pembelajaran yang diinginkan?
Pada dasarnya, perencanaan dalam desain pembelajaran terdiri atas delapan langkah:
1.      Menentukan tujuan dan daftar topik, menetapkan tujuan umum untuk pembelajaran tiap topiknya.
2.      Menganalisis karakteristik pelajar, untuk siapa pembelajaran tersebut didesain.
3.      Menetapkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya dapat dijadikan tolak ukur perilaku pelajar.
4.      Menentukan isi meteri pelajaran yang dapat mendukung tiap tujuan.
5.      Pengembangan prapenilaian/ penilaian awal untuk menentukan latar belakang pelajar dan pemberian level pengetahuan terhadap suatu topic.
6.      Memilih aktivitas pembelajaran dan sumber pembelajaran yang menyenagkan atau menentukan strategi belajar-mengajar, jadi siswa siswa akan mudah menyelesaikan tujuan yang diharapkan.
7.      Mengkoordinasi dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi personalia, fasilitas-fasilitas, perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan rencana pembelajaran.
8.      Mengevaluasi pembelajaran siswa dengan syarat mereka menyelesaikan pembelajaran serta melihat kesalahan-kesalahan dan peninjauan kembali beberapa fase dari perencanaan yang membutuhkan perbaikan.
Untuk lebih jelasnya, akan kita ungkapkan lebih dalam lagi. Kemampuan belajar yang dimiliki manusia merupakan bekal yang sangat pokok. Berdasarkan kemampuan itu manusia telah berkembang selama berabad-abad yang lalu dan tetap terbuka kesempatan yang luas baginya untuk memperkaya diri dan mencapai taraf kebudayaan yang lebih tinggi. Masing-masing manusia pun mengalami banyak perkembangan di berbagai bidang, kemampuan ini didapat karena adanya kemampuan untuk belajar. Tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Setiap guru/ pengajar berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang siswanya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Para ahli dalam dunia pendidikan melihat adanya dua bagian pada proses belajar, ialah: proses pemerolehan informasi baru dan personalia informasi ini pada individu.
Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dati ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya. Untuk itu guru harus memahami perlaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada.
1.      Tujuan, Topik dan Tujuan Umum
Tujuan di perlukan agar hasil perencanaan nantinya dapat mengembangkan kompetensi yang akan menolong pelajar agar dapat bepartisipasi dalam lingkungan masyarakat, selain itu, tujuan mesti mengenal perubahan dalam kebutuhan pelajar dan keterkaitannya dengan apa yang seharusnya diberikan pada siswa. Semua program pembelajaran hendaknya didasarkan pada pengembangan tujuan dan tujuan-tujuan itu dapat diambil dari tiga sumber yaitu masyarakat, pelajar itu sendiri, dan kawasan pembelajaran. Sebenarnya, tujuan-tujuan itu terdiri atas filsafat dan dari pertimbangan etika serta tuntutan dari masyarakat yang menghendaki hasil (out put) pembelajaran tersebut.
Sebuah perencanaan mesti menentukan topik utama. Topik tersebut akan menjadi cakupan program pembelajaran yang dibuat. Topik biasanya disusun secara logis, paling simpel dan konkret sehingga orang dapat lansung melihat gambaran dari rencana program pembelajaran tersebut. Topik dapat disusun berdasarkan pengalaman yang didapat atau pemikiran yang menjadi dasar sesuatu yang akan dibuat.
Ketika tim pembelajaran untuk kali pertama menentukan tujuan umum, banyak dari mereka yang menggunakan istilah-istilah penting sebagai penunjang atau penggambaran topik agar dapat memahami dengan benar keluaran (output) dari rancangan pembelajaran.
Berikut beberapa pernyataan dari tujuan umum yang biasanya digunakan untuk menggambarkan topik:
a.       Untuk memperoleh kemampuan apa
b.      Untuk menilai
c.       Untuk menjadi tahu akan
d.      Untuk menjadi akrab dengan
e.       Untuk dikenalkan pada
f.       Untuk percaya dalam
g.      Untuk memahami
h.      Untuk memutuskan
i.        Untuk menikmati
j.        Untuk mengetahui arti dari
k.      Untuk memiliki perasaan pada
l.        Untuk mengenali
m.    Untuk belajar
n.      Untuk meniru
o.      Untuk menguasai
p.      Untuk merasakan
q.      Untuk mengerti
r.        Untuk menggunakan
Jadi perencanaan pembelajaran sering dimulai dengan pernyataan yang berorientasi pasa tujuan umum bagi topik yang telah ada sebelumnya.
2.      Karakteristik Pelajar
Ketika mendesain sebuah rencana pembelajaran, kita mesti cepat memutuskan karakteristik dari siswa karena dengan mengetahui karakteristik tersebut sangat membantu dalam membuat perencanaan pembelajaran. Faktor-faktor yang mesti diperhatikan dalam membantu menentukan karakteristik siswa yaitu:
faktor akademi, antara lain jumlah siswa, latar belakang akademi/ pendidikan, rata-rata nilai, tingkat kepintaran, tingkatan membaca, prestasi dan tes kemampuan, adat kebiasaan, kemampuan untuk bekerja sendiri, latar belakang pelajaran atau topik, motivasi untuk belajar, harapan-harapan belajar, dan aspirasi kebudayaan.
Faktor sosial, antara lain umur, tingkat kematangan, bakat spesial, emosi dan kejiwaan, hubungan antar pelajar.
Informasi-informasi dari kandungan faktor-faktor di atas dapat diperoleh dari kumpulan catatan siswa dan dari konsultasi dengan guru-guru, bimbingan konseling dan lain-lain. Hasil dari daftar informasi tersebut, sebaiknya ditambah dengan surve perilaku dan tes awal. Faktor lain seperti kondisi dan gaya belajar juga mesti dicatat dan diperhatikan pada saat perencanaan agar ciri-ciri pelajar yang diidentifikasi dapat lebih sempurna.

3.      Tujuan Pembelajaran
Semua tujuan pembelajaran mesti diwujudkan sebagai syarat yang akan meningkatkan aktivitas pembelajaran. Dengan menciptakan tujuan-tujuan yang pasti, kita dapat mengetahui dengan jelas apa yang ingin kita ajarkan dan kemudian dapat memutuskan apa-apa saja yang telah dicapai. Menetukan tujuan merupakan sebuah aktifitas yang bersifat pengembangan yang meminta ketelitian, perubahan dan penambahan. Bagi sebagian guru, tujuan dapat menjadi jelas setelah pelajaran dibuat garis besarnya. Kategori dari tujuan pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu:
Kognitif, merupakan kategori yang memberikan perhatian yang lebih dalam program pendidikan. S.Bloom. dkk, sebuah taksonomi bagi kognitif. Dalam hal ini, dia (kognitif) dimulai dari pengetahuan sederhana sampai tingkat tertinggi yaitu:
a.       Mengetahui, merupakan kemampuan untuk mengingat, mengulang kembali apa yang didapat dan lain sebagainya.
b.      Memahami, merupakan kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan informasi, teori-teori, prinsip-prinsip/ hukum-hukum dari situasi baru.
c.       Analisis, merupakan kemampuan untuk membagi pengetahuan yang rumit menjadi bagian-bagian yang terurai dan mengetahui hubungan tiap bagian.
d.      Sintesis, merupakan kemampuan untuk menyatukan bagian-bagian yang terpisah menjadi bentuk baru.
e.       Evaluasi, merupakan kemampuan untuk menilai berdasarkan pada pengetahuan/ pemberian criteria.
Psikomotor, adalah kemampuan dalam menggunakan dan mengkoordinasi otot rangka dalam aktivitas fisik dan melakukan sesuatu. Psikomotor ini meliputi:
a.       Pergerakan tubuh yang kasar
b.      Pergerakan halus dikoordinasi
c.       Komunikasi non-lisan
d.      Tingkah laku berbicara
Afektif, ini meliputi sikap, penilaian atau penghargaan, nilai-nilai dan emosi seseorang. David R.Krathwohl.dkk membagi afektif dalam lima tingkatan:
a.       Penerimaan, keinginan untuk memberikan perhatian pada sebuah aktifitas.
b.      Menanggapi, keinginan untuk mereaksi sesuatu.
c.       Penilaian, keinginan untuk menerima sesuatu melalui sikap yang positif.
d.      Pengorganisasian, ketika menemukan situasi yang memiliki lebih dari satu penerapan, keinginan untuk mengorganisasikan nilai dapat digunakan.
e.       Penggambaran sebuah nilai yang kompleks.

Adapun prosedur dalam penulisan tujuan pembelajaran adalah:
a.             Dimulai dengan sebuah tindakan yang menggambarkan perilaku/ aktivitas oleh pelajar.
b.            Mengikuti perilaku dengan referensi yang menggambarkan sesuatu yang lagi disenangi.
c.             Jika bagian-bagian yang diperlukan tersebut memerlukan beberapa hitungan, tambahkan standar performance yang mengidentifikasi pencapaian minimum yang dapat diterima.
d.            Sebagai kebutuhan pemahaman siswa dan agar menetapkan keperluan evaluasi, tambahkan beberapa kriteria-kriteria.
Tujuan perencanaan pembelajaran juga memiliki keuntungan dan kelemahan, antara lain.
Kelebihan
a.             Kerangka dari beberapa tujuan program pembelajaran dibuat atas kompetensi dasar, dimana siswa menguasai pembelajaran merupakan sebuah harapan untuk dapat menjadi dampak dikemudian hari.
b.            Tujuan menginformasikan siswa apa yang akan dituntut atau diminta dari mereka.
c.             Tujuan membantu perancang program pembelajaran untuk berpikir secara jelas dan mengatur serta mengurutkan seuatu.
d.            Tujuan mengidentifikasi tipe dan meningkatkan aktivitas yang diperlukan untuk menyukseskan pembelajaran.
e.             Tujuan menyediakan dasar pengevaluasian dengan pembelajaran siswa.
f.             Tujuan menyediakan sesuatu yang baik untuk berkomunikasi.
Kelemahan
a.             Hampir semua tujuan berhubungan dengan tingkat kognitif yang rendah.
b.            prosedur digunakan untuk menetapkan penerapan tujuan yang baik untuk kognitif dan psikomotor namun afektif tidak demikian.
c.             Pada saat tujuan boleh jadi digunakan dalam pembelajaran yang membutuhkan struktur kandungan yang tinggi seperti matematika dan sains, mereka dibatasi menggunakan sesuatu yang erat dengan kemanusiaan seperti seni, ilmu sosial dan lain sebagainya.
d.            Guru tidak dapat menentukan semua dampak kemajuan dari program pembelajaran.
e.             Membuat pembelajaran terlalu bersifat mekanik dan perorangan.

4.      Menentukan Isi Materi
Materi harus berdasarkan pada tujuan pembelajaran. Karena bagian terpenting dari desain pembelajaran terletak pada tujuan pembelajaran itu sendiri. Dalam beberapa kasus, isi dari materi pembelajaran adalah turunan dari tujuan pembelajaran.
Tujuan pembelajaran dapat diartikan sebagai apa yang akan dituju oleh materi pembelajaran. Atau dengan kata lain, tujuan pembelajaran adalah hasil dari materi pembelajaran.
Dalam pembelajaran yang bersifat tradisional biasanya para guru menjadikan materi pembelajaran sebagai titik berangkat dari sebuah pembelajaran dan hal itu masih banyak terjadi hingga saat ini. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam mengorganisir isi pembelajaran. Ada beberapa hal yang harus kita lakukan dalam menentukan isi pembelajaran yaitu mencakup pemilihan dan pengaturan dari pengetahuan yang spesifik, skill dan faktor sikap/ pendirian.
Dalam menetukan level tujuan kita dapat memakai prinsip pembelajaran behavior-nya Gagne yaitu fakta, konsep, hal – hal yang terpenting dan problem solving. Jika siswa sudah mempelajari hal-hal penting dalam suatu pembelajaran maka selanjutnya diharapkan mereka dapat mengaplikasikannya dan mengkorelasikan dengan situasi masalah. Langkah- langkah itu adalah:
a.       Menerangkan kejadian.
b.      Menduga alasan.
c.       Memprediksi konsekuensi.
d.      Mengontrol situasi.
e.       Memecahkan masalah.


5.      Penilaian Awal
Penilaian awal memiliki peranan yang cukup penting dalam model desain ini. Dengan melakukan hal ini kita dapat mengetahui tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh murid. Mengetahui kondisi pengetahuan murid sangat membantu kita dalam mendesain pembelajaran.
Penilaian awal juga dapat membantu untuk mengefisiensikan pembelajaran. Dengan melakukan tahapan ini kita dapat mengetahui tingkatan pengetahuan murid. Dengan demikian seorang murid tidak perlu membuang-buang waktu untuk mempelajari kembali materi yang telah mereka kuasai. Ada dua hal yang dapat kita lakukan dalam pre-Assessment yaitu prerequisite test dan pretest.
Identifikasi Pengalaman Siswa
Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah siswa memiliki pengalaman/ ilmu yang terkait dengan materi yang akan diberikan. Tes ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara seperti menyebar angket, melihat hasil pekerjaan siswa, mengobservasinya ketika tengah bekerja, atau dengan wawancara. Dengan melakukan proses ini kita dapat memilah dan memilih materi apa saja yang tidak perlu disampaikan, disampaikan sebagian saja, atau bahkan disampaikan mulai dari tingkatan dasar.
Pretest
Tahapan lainnya dalah pretest. Pretest dilakukan untuk pemahaman siswa terhadap materi yang akan diberikan. Untuk beberapa kasus ada yang mendampingkan pretest dengan posttest dengan demikian kita dapat meihat hasil pembelajaran dengan membandingkan hasil pretest dan posttest. Keuntungan lainnya adalah hasil posttest dapat digunakan sebagai prerequisite test untuk materi lain yang memiliki keterkaitan dengan materi ini.
Dalam pelaksanaannya, pretest tidak selalu harus dilakukan dengan konsep formal. Misalnya saja kita dapat bertanya langsung pada siswa di dalam kelas. Kita dapat bertanya berapa banyak diantara mereka yang telah mengerti dengan materi yang akan diberikan. Jumlah siswa yanhg mengangkat tangan dapat menjadi data yang sangat berguna bagi kita.
Di lapangan, pretest tidak terlalu berpengaruh pada pembelajaran tradisional yang masih bersifat pasif karena pembelajaran seperti itu lebih terkesan menyamaratakan kondisi siswa. Tapi manfaat dari pretest dapat kita ambil ketika kita melakukan pembelajaran yang bersifat personal.
Manfaat lainnya adalah untuk mengenalkan siswa pada materi yang akan dia pelajari. Namun, ada yang harus kita perhatikan ketika kita melakukan pretest, faktanya tidak semua siswa siap dalam menmghadapi tes seperti itu. Sebelumnya kita harus memberitahukan bahwa hasil dari tes ini tidak ada sangkut pautnya dengan nilai yang akan mereka peroleh.

6.      Aktifitas dan Sumber-sumber Pembelajaran
Pada tahapan ini dijelaskan tentang bentuk-bentuk dari kegiatan bejalar yang efektif dan media-media yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar.
Sumber belajar, hal penting yang tidak boleh kita lupakan adalah media sumber belajar. Hendaknya kita memilih media yang cocok dengan kondisi dan materi yang akan diberikan. Media yang baik dapat memotifasi siswa dan dapat menjelaskan materi secara efektif serta mengilustrasikan isi materi. Media yang digunakan dapat bermacam – macam. Media yang digunakan dapat berupa media cetak, media audio, media visual, dan media audio visual yang terpenting media itu dapat menunjang kegiatan personal maupun kelompok.
Dalam melakukan proses pembelajaran hendaknya kita memilih alternatif kegiatan yang paling efektif dan sesuai dengan keadaan siswa. Namun demikian sebenarnya tidak ada rumus yang baku untuk mensinkronkan alternatif jenis kegiatan pembelajaran dengan kebutuhan dan kodisi siswa. Namun kita masih dapat menentukan jenis alternatif pembelajaran dengan cara menganalisis setiap kelebihan dan kekurangannya lalu disinkronkan dengan keadaan siswa.
Umumnya para guru dapat mendesain pembelajaran dengan bantuan buku manual. Namun hal itu hanya terbatas pada pembelajaran yang bersifat tradisional saja. Padahal ilmu pendidikan senantiasa berkembang dan terus mengeluarkan produk-produk baru yang lebih canggih lagi. Dari sinilah masalah muncul, karena para guru tidak menguasai produk-produk baru tersebut. Disinilah peran seorang pendesain diperlukan.
Dalam perkembangan selanjutnya ada tiga alternatif pembelajaran yang memiliki kelebihan jika dibanding dengan alternatif lainnya. Tiga alternatif itu adalah presentasi group presentation, individualized learning, dan interaction between teacher and student.
Ada beberapa alasan yang mendasari ketiga alternatif pembelajaran di atas dinilai lebih efisien dan efektif karena dengan melakukan presentasi proses penyampaian informasi lebih bersifat pasif. Selain itu setiap siswa memiliki kondisi poercepatan pemahan yang berbeda dalam memahami suatu materi.
a.       Group Presentation
Pada kegiatan ini guru atau siswa melakukan sebuah presentasi untuk menyampaikan sebuah materi. Kegiatan seperti ini harus ditunjang oleh tempat yang memadai seperti di dalam kelas atau aula. Dalam pelaksanaannya penyaji dapat menggunakan alat bantu untuk menyampaikan presentasinya alat itu dapat berupa media audio, visual atau audio visual.
Ada tiga karakter manusia yang akan ditunjukkan oleh siswa dalam kegiatan ini. Karakter pertama adalah siswa yang aktif berinteraksi. Siswa akan aktif dalam kegiatan diskusi, ia akan berpendapat, bahkan tetap berkonsultasi dengan penyaji setelah kegiatannya selesai. Tipe kedua adalah siswa yang hanya bekerja di tempat duduknya. Dan karakter ketiga adalah siswa yang bersifat kritis pada setiap materi yang disampaikan oleh penyaji dan biasanya keikutsertaannya lebih cenderung kearah banyak bertanya.
b.      Individualized Learning
Yang melatar belakangi konsep ini adalah bahwa setiap orang memiliki tingkat kecerdasan dan percepatan pemahaman yang berbeda. Selain itu setiap siswa juga memiliki pola pikir dan cara belajar yang berbeda. Untuk itu, guru harus dapat mendesain jenis pembelajaran yang sesuai dengan keadaan dan karakteristik yang dimiliki oleh siswa. Istilah lain untuk bentuk pembelajaran seperti ini adalah self instruction, independent study, individualized prescribed instruction dan self directed atau self-paced learning.
c.       Interaction Between Teachers and Student
Format pembelajaran seperti ini adalah pembentukan kelompok-kelompok kecil. Dalam kelompok itu guru dan siswa melakukan diskusi dan saling bertukar pikiran sehingga dapat terjadi proses mengambil pelajaran dari peserta lainnya dengan metode ini juga setiap peserta akan dapat saling memahami karakter satu sama lain.
Agar memperoleh hasil yang maksimal, maka anggota kelompok ini harus dibatasi. Kelompok ini terdiri dari tujuh sampai 12 orang. Ada beberapa kelebihan yang dapat diambil dari model ini. Dengan model ini para peserta akan terlatih dalam kemampuan mendengar dan berbicara. Hal ini terlatih ketika mereka tengah menyampaikan pendapat. Selain itu, bentuk ini juga melatih kepemimpinan.

7.      Sarana Penunjang
Selanjutnya kita memerlukan beberapa hal yang dapat menunjang program pembelajaran. Hal itu diantaranya adalah biaya, fasilitas, peralatan, waktu dan jadwal, serta kordinasi dengan aktifitas lainnya.
a.       Biaya
Dana merupakan hal yang amat krusial dalam pengembangan pendidikan. Semua program baru yang akan dipakai tentunya memerlukan dana untuk memulainya. Sekolah yang ingin mengembangkan program pendidikannya misalnya saja dengan membuat inovasi baru, penelitian, dan pengembangan memerlukan biaya untuk menjalankannya. Pemanfaatan biaya dilakukan ketika masa pengembangan dan selama pemakaian peralatan.
b.      Fasilitas
Proses pembelajaran tentunya membutuhkan fasilitas yang memadai untuk keberlangsungannya. Berikut adalah kegiatan beserta fasilitas yang dibutuhkannya:
·         Dalam kegiatan presentasi, kita membutuhkan proyektor audio visual, sound sistem, dan perlengkapan lainnya.
·         Tempat pembelajaran mandiri. Merupakan sebuah tempat yang diperuntukkan untuk para siswa dalam melakukan proses pembelkajaran mandiri.
·         Ruangan untuk kegiatan belajar kelompok. Ruangan ini didesain dengan furniture yang tidak formal. Kemudian dilengkapi dengan proyektor audio visual, dan papan display misalnya papan tulis.
·         Ruang peralatan. Ruang ini digunakan untuk menyimpan barang – barang yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Dari ruang ini pula dikordinirnya setiap peralatan yang digunakan untuk membantu proses pembelajara.
·         Ruang rapat untuk staff.
c.       Peralatan
Dalam menjalankan program yang telah dijalankan tentunya kita memerlukan beberapa peralatan untuk menunjang kegiatan tersebut. Dalam mendesain sebuah program kita harus memastikan bahwa kita memiliki atau setidaknya dapat mengusahakan peralatan yang akan kita pakai. Karena ketidak tersediaan alat bisa mempengaruhi program yang akan dijalankan.
Selain itu kita harus mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang alat yang akan kita gunakan dari orang yang kompeten dibidang itu. Kita harus mencari tahu informasi tentang peralatan yang akan kita gunakan dengan demikian kita dapat memilih barang yang tepat. Peralatan yang kita pilih sebaiknya peralatan yang mudah dipergunakan dan memiliki resiko yang kecil.
Hal penting lainnya adalah kita tetap membutuhkan orang-orang yang kompeten dengan peralatan itu. Selain itu kita jangan terjebak dengan barang-barang yang canggih, namun sebenarnya kita tidak memerlukan kecanggihannya agar kita tidak terjebak pada mubazir.
d.      Waktu dan Jadwal
Dalam menentukan program hendaknya kita memperhatikan jadwal dan waktu yang tepat. Jangan sampai waktu yang kita tentukan bentrok dengan kegiatan lainnya.
Selain itu kita juga harus memperhatikan jangan sampai waktu yang kita pilih ternyata bentrok dengan program lain yang belum selesai.
e.       Koordinasi dengan aktifitas Lainnya
Kita pun harus mengkordinasikan program yang kita buat dengan pihak-pihak lainnya. Misalnya saja untuk masalah perizinan. Terutama sekali jika siswa yang menjadi bagian dari program kita adalah siswa yang masih membutuhkan bimbingan orang tuanya. Kita harus mengkomunikasikan kegiatan ini dengan orang tua. Bahkan jika perlu kita undang orang tuanya untuk hadir dan mengawasi program yang telah kita rencanakan.

8.      Evaluasi
Selanjutnya adalah proses evaluasi. Evaluasi harus sejalan dengan tujuan awal pembelajaran. Selanjutnya tujuan awal pembelajaran akan berperan sebagai acuan dari evaluasi. Proses evaluasi ini berfungsi untuk mengukur hasil outcome dari pembelajaran yang telah dilakukan. Selain itu proses evalusi juga berfungsi untuk mengukur tingkat keberhasilan program pembelajaran yang telah didesain. Dari proses evaluasi ini kita dapat melihat perbandingan siswa yang lulus dan tidak lulus. Jika perbandingan siswa yang lulus lebih banyak dibandingkan siswa yang tidak lulus maka pembelajaran ini dianggap berhasil.
Ada beberapa bentuk tes yang dapat digunakan untuk proses evaluasi. Salah satunya adalah tes dengan format pilihan ganda. Tes dengan bentuk seperti ini bisa diterapkan pada siswa dalam berbagai tingkatan pemahaman baik yang pemahamannya sudah maksimal maupun belum.
Selain itu ada juga tes yang berbentuk essay. Tes seperti ini dipakai untuk menguji tingkat pemahaman siswa akan materi yang dipelajarinya. Dengan bentuk seperti ini siswa dapat lebih mengapresiasikan pemahamannya dengan lebih leluasa. Dengan metode seperti ini siswa dapat mengorganisir, menghubungkan dan mengintegrasikan setiap materi yang telah dipelajarinya.
Selain kedua bentuk tes tadi ada juga bentuk tes untuk menguji kemampuan psikomotorik. Tes seperti ini dilakukan dengan cara praktek. Contohnya adalah tes menyetir bagi seseorang yang sedang mengikuti les menyetir.
Ada beberapa karakteristik dari tes yang harus diperhatikan yaitu:
a.       Tes benar – benar ditujukan untuk mengevaluasi tujuan pembelajaran. Namun dalam beberapa hal, tes juga dapat digunakan untuk mengetes sub tujuan dari pembelajaran.
b.      Tujuan pembelajaran yang merupakan tujuan utama dari pembelajaran hendaknya tidak dites denga denga satu cara tapi dites dengan beberapa alternatif cara lainnya. Hal ini berguna untuk memberikan kesempatan pada siswa untuk dapat menjawab dan memperlihatkan kemampouannya dengan maksimal mengingat tujuan tes yang begitu penting.
c.       Tes yang diberikan benar – benar bersifat semata – mata untuk menguji tujuan utama dari pembelajaran.

D.    Aplikasi Model Pembelajaran Jerold E. Kemp
Model desain pembelajaran J. Kemp merupakan model desain pembelajaran di jenjang SD, SMP, dan SMA. Aplikasi model desain pembelajaran ini dibuat dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Perencanaan pembelajaran atau biasa disebut Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rancangan pembelajaran mata pelajaran per unit yang akan diterapkan guru dalam pembelajaran di kelas. Berdasarkan RPP inilah seorang guru (baik yang menyusun RPP itu sendiri maupun yang bukan) diharapkan bisa menerapkan pembelajaran secara terprogram. Karena itu, RPP harus mempunyai daya terap (aplicable) yang tinggi. Tanpa perencanaan yang matang, mustahil target pembelajaran bisa tercapai secara maksimal. Pada sisi lain, melalui RPP pun dapat diketahui kadar kemampuan guru dalam menjalankan profesinya. Sebagaimana rencana pembelajaran pada umumnya, rencana pembelajaran melalui pendekatan kontekstual dirancang oleh guru yang akan melaksanakan pembelajaran di kelas yang berisi skenario tentang apa yang akan dilakukan siswanya sehubungan topik yang akan dipelajarinya.
Dalam penerapan aplikasi model J. Kemp, diterapkan dalam sebuah RPP yang bisa dijabarkan sebagai berikut:
a.       Menentukan Tujuan Umum
Sebagaimana diketahui bahwa menuliskan tujuan pembelajaran umum (TPU) untuk pokok bahasan adalah salah satu unsur penting dalam proses perencanaan pembelajaran. Beberapa pendekatan perencanaan menghendaki atau mempersyaratkan segera dilakukannya penulisan tujuan umum tersebut setelah diketahui pokok bahasan yang akan diajarkan.ini pekerjaan sulit dan kurang disenangi dan tidak banyak orang yang dapat merinci dengan jelas berbagai tujuan umum. Bahkan ketika tujuan umum mulai ditulis, berbagai istilah berikut ini sering digunakan seperti : memahami, mempelajari, menanamkan sikap, memperoleh keterampilan dan lain-lain.
Semua istilah di atas itu tidak cocok untuk menyatakan tujuan kegiatan belajar. Penggunaan istilah di atas memang menyatakan tujuan atau maksud guru sebagai hasil belajar utama setelah mempelajari pokok bahasan yang ditentukan, namun tidak secara khusus menunjukkan kemampuan apa yang harus dicapai siswa. Jangan menyamakan pernyataan tujuan, yang ditulis secara umum untuk suatu mata diklat secara keseluruhan, dengan tujuan pembelajaran umum pembelajaran (TPU) yang ditulis untuk suatu pokok bahasan. Beberapa istilah dapat digunakan untuk tujuan umum diantaranya: menghargai, mengenali, menentukan, memahami arti, menguasai, menilai, mengerti, dan sebagainya. Jadi tujuan umum terdiri atas sebuah kata kerja yang tidak pasti, dan isi pokok bahasan yang bersifat luas.
b.      Menganalisis Karakteristik Siswa
Analisis paralel terhadap peserta didik dan konteks dimana mereka belajar dan konteks apa tempat mereka menggunakan hasil pembelajaran. Keterampilan-keterampilan perserta didik yang ada saat ini, yang lebih disukai dan sikap-sikap ditentukan berdasarkan karakteristik atau setting pembelajaran dan setting lingkungan tempat keterampilan diterapkan.
Aspek-aspek yang diungkap dalam kegiatan ini dapat berupa bakat, motivasi belajar, gaya belajar, kemampuan berfikir, minat, atau kemampuan awal.
c.       Menentukan Tujuan Pembelajaran Khusus
Mengacu kepada pengertian tujuan pembelajaran umum diatas menunjukkan kurang jelasnya apa yang diharapkan dari siswa. Kalau apa yang diharapkan tidak dibatasi dengan jelas, siswa tentu tidak akan tahu dengan pasti apa yang akan dipelajari atau kegiatan apa yang perlu dilaksanakan. Di samping itu, tanpa batasan tersebut, guru tentu akan menghadapi kesulitan dalam mengukur hasil belajar secara rinci. Kelemahan ini dapat diatasi apabila guru menuliskan dengan tepat manfaat nyata yang akan diperoleh siswa sebagai hasil belajar mereka. Manfaat ini dapat ditunjukkan dalam bentuk sesuatu yang akan diraih siswa setelah belajar. Dari sinilah lahir tujuan pembelajaran khusus (TPK.) atau sasaran pembelajaran. Dengan mengetahui apa yang diharapkan dalam bentuk tujuan pembelajaran khusus kita memperoleh manfaat antara lain:
·         Siswa dapat mengatur tata cara belajar mereka dengan baik dan menyiapkan diri untuk menempuh ujian.
·         Siswa memiliki rasa percaya diri dan termotivasi untuk melanjutkan kegiatan belajar berikutnya.
·         Merupakan landasan bagi guru dalam memilih dan menyusun aktivitas pembelajaran dan sumber belajar, serta memilih media metode agar pembelajaran lebih efektif.
·         Tujuan pembelajaran khusus merupakan acuan kerja untuk merancang alat evaluasi. Jadi tujuan pembelajaran khusus (TPK.) harus dapat menjadi dasar untuk merancang.
·         Cara dan soal ujian yang relevan. Tujuan pembelajaran khusus dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama yakni ranah kognitif, ranah psikomotor, dan ranah afektif. Pemahaman tentang jenjang dalam tiap ranah sangat berguna ketika merencanakan satuan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk suatu mata diklat.
d.      Menentukan Materi Pembelajaran
Setelah menetapkan tujuan khusus pembelajaran, maka langkah berikutnya adalah menetapkan isi (produk) belajar atau bahan ajar. Proses pembelajaran dapat ditingkatkan apabila bahan ajar atau tata cara yang akan dipelajari tersusun dalam urutan yang bermakna. Kemudian, bahan itu harus disajikan kepada siswa dalam beberapa bagian, dimana banyak sedikitnya bagian tersebut bergantung pada urutan, kerumitan dan tingkat kesulitannya. Susunan dan tata cara ini dapat membantu siswa menggabungkan dan memadukan pengetahuan atas proses secara pribadi. Pada tahap ini ditetapkan konsep, prinsip, azas yang mana harus dikuasai siswa. Bahan ajar yang ditetapkan itu diuraikan dalam setiap langkah pembelajaran secara sistematis.
e.       Menentukan Kegiatan Belajar Mengajar
Setelah tujuan pembelajaran umum, tujuan pembelajaran khusus dan tata urut bahan ajar telah ditetapkan oleh guru, maka muncul persoalan berikutnya yakni bagaimana memilih strategi pembelajaran. Penetapan strategi pembelajaran mengacu kepada proses penetapan struktur kegiatan pembelajaran. Dalam strategi pembelajaran mesti tergambarkan tahap-tahap pengajaran, situasi belajar yang perlu dikembangkan, kegiatan guru dan siswa dan sumber-sumber belajar. Proses menentukan struktur kegiatan belajar mengajar ini berkaitan erat dengan pemilihan penentuan model mengajar yang digunakan. Walaupun seorang guru tidak mungkin secara kaku hanya menggunakan satu model mengajar tertentu dalam suatu kegiatan pembelajaran, namun model utama yang akan digunakan kiranya dapat pula ditentukan. Dalam kegiatan pembelajaran guru dapat memilih satu atau beberapa model mengajar yang relevan sebagai strategi.
f.       Mentukan Pre-Test
Menilai hasil belajar merupakan unsur terakhir dari keempat unsur penting dalam proses perancangan pembelajaran. Untuk merancang alat penilaian hasil belajar guru perlu mengenali kembali rumusan tujuan pembelajaran khusus (TPK). Untuk kemudian guru harus mengembangkan alat uji dan bahan untuk mengukur seberapa jauh siswa telah menguasai pengetahuan yang dipelajarinya, dapat memperagakan keterampilannya dan menunjukkan perubahan dalam sikapnya sebagaimana yang dituntut tujuan khusus pembelajaran tersebut. Harus ada hubungan langsung antara tujuan khusus pembelajaran dengan soal dalam alat uji penilaian. Beberapa pakar bahkan menganjurkan agar segera setelah isi bahan ajar dan rincian tujuan pembelajaran khusus selesai ditulis, guru dapat langsung membuat soal ujian yang berhubungan dengan isi mata diklat tadi.
g.      Melakukan Evaluasi
Evaluasi merupakan alat yang digunakan untuk mengungkap taraf kenberhasilan pembelajaran, khususnya untuk mengukur hasil belajar siswa. Melalui evaluasi dapat diketahui efcktivitas proses pembelajaran dan tingkat pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi yang baik adalah alat yang tepat (valid), dapat dipercaya (reliable) dan memadai (adequate). Pcngukuran tingkat keberhasilan siswa dapat dilakukan dengan menggunakan tes tertulis (written test), tes lisan (oral test) ataupun tes praktck (performance test). Evaluasi mcrupakan laporan (akhir) dari proses pembelajaran khususnya laporan tentang kemajuan prestasi belajar siswa. Evaluasi secara otomatis merupakan pertanggungjawaban guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran.
Rencana pelaksanaan pembelajaran untuk mata diklat tertentu dharus menekankan pada pengajaran pengetahuan atau keterampilan namun tidak mengabaikan penekanan pada aspek afektif. Merancang RPP dengan cara bersistem diharapkan dapat mempersiapkan para siswa untuk menggunakan semua yang mungkin mereka kuasai untuk kebutuhan pribadi, sosial, atau pekerjaan dimasa datang. Apapun tujuan suatu mata diklat, proses perencanaan pelaksanaan pembelajaran membutuhkan proses berpikir secara menyeluruh. Jadi pendekatan yang dipilih seyogianya pendekatan yang memungkinkan adanya kerja sama antara siswa (dan dengan guru). Berbagai hasil penelitian yang dilakukan baik di dalam negeri maupun di luar negeri menyimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang diajar guru dengan menggunakan persiapan mengajar dengan baik, lebih efektif dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang diajar tanpa menggunakan persiapan mengajar yang baik.

E.     Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Jerold E. Kemp
1.      Kelebihan
Didalam diagram pengembangan Kemp berbentuk bulat telur yang tidak memiliki titik awal tertentu sehingga dapat memulai perancangan secara bebas. Dari bentuknya yang bulat telur itu juga menunjukkan adanya saling ketergantungan diantara unsur-unsur yang terlibat. Dalam model pembelajaran Kemp ini, disetiap melakukan langkah atau prosedur terdapat revisi terlebih dahulu gunanya untuk menuju ketahap berikutnya. Tujuannya adalah apabila terdapat kekurangan atau kesalahan ditahap tersebut, dapat dilakukan perbaikan terlebih dahulu sebelum melangkah ketahap berikutnya.

2.      Kekurangan
Model pembelajaran Kemp ini agak condong ke pembelajaran klasikal atau pembelajaran dikelas. Oleh karena itu, peran guru disini mempunyai pengaruh yang besar, karena mereka dituntut dalam rangka program pengajaran, instrument evaluasi dan strategi pengajaran.
Uji coba tidak diuraikan secara jelas kapan harus dilakukan dan kegiatan revisi baru dilaksanakan setelah diadakan tes formatif.  Sedangkan pada tahap-tahap pengembangan tes hasil belajar, strategi pembelajaran maupun pada pengembangan dan penilaian bahan pembelajaran tidak nampak secara jelas ada tidaknya penilaian pakar (validasi).

F.     Pendapat Penulis Terhadap Model Pembelajaran Jerold E. Kemp
Pembelajaran intruksional merupakan sebuah sistem karena memiliki komponen-komponen yang harus di organisasikan. Untuk mencapai kualitas pembelajaran, perencanaan pembelajaran haruslah di dasarkan pada pendekatan sistem. Untuk merencanakan pembelajaran dapat dikembangkan berbagai model dan mengorganisasikan pembelajaran. Dari berbagai model rancangan pembelajaran, tidak ada model rancangan pembelajaran yang paling ampuh. Oleh karena itu, dalam menentukan model rancangan untuk mengembangkan suatu program pembelajaran tergantung pada pertimbangan guru terhadap model yang akan digunakan atau dipilih sesuai dengan materi yang akan diajarkan, kondisi siswa yang akan diajarkan dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Dari berbagai macam model pembelajaran seperti model assure yang merupakan langkah merancanakan pelaksanaan pembelajaran di ruang kelas secara sistematis dengan memadukan penggunaan terknologi dan media. Model assure menggunakan tahap demi tahap untuk membuat perancangan pembelajaran yang dapat dilihat dari nama model tersebut, yaitu ASSURE. Menurut Smaldino (2007:86) A yang berarti Analyze learners, S berarti State standard and Objectives, S yang kedua berarti Select strategi, technology, media, and materials, U berarti Utilize technology, media and maerials, R berarti Require learner participation dan E berarti Evaluated and revise. Jadi model Assure ini cocok digunakan pada disain pembelajaran berbasis komputer. Jika tujuan pembelajaran lebih berbasis ke komputer berarti model Assure sangat bagus digunakan bila dibandingkan dengan model pembelajaran Kemp.
Sementara apabila tujuan pembelajaran itu untuk membangun perangkat dan infrastruktur program pelatihan maka model pembelajaran yang baik itu adalah model Addie, sementara model Kemp tidak akan efektif karena model Kemp lebih klasikal.
Jadi seorang perancang pembelajaran bebas memilih model pembelajaran yang diinginkan tergantung kepada kebutuhan akan apa materi yang akan diajarkan, siapa peserta didiknya, medianya dan paling utama apa tujuan yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran tersebut.
G.    Kesimpulan dan Saran
1.      Kesimpulan
Model pembelajaran Jerold E.Kemp terdiri atas delapan langkah:
a.       Menentukan tujuan pembelajaran umum atau standar kompetensi dan kompetensi dasar yaitu tujuan yang ingin dicapai dalam setiap kegiatan pembelajaran.
b.      Membuat analisis tentang karakteristik siswa. Analisis ini diperlukan antara lain untuk mengetahui apakah latar belakang pendidikan dan social budaya siswa memungkinkan untuk mengikuti program, serta langkah- langkah apa yang perlu diambil.
c.       Menentukan tujuan pembelajaran khusus atau indikator, yaitu tujuan yang spesifik, operasional dan terukur. Dengan demikian, siswa akan tahu apa yang harus dipelajari, bagaimana mengerjakannya dan apa ukurannya bahwa siswa telah berhasil. Dari segi guru, rumusan itu akan berguna dalam menyusun tes kemampuan dan penilaian bahan/materi yang sesuai.
d.      Menentukan materi/bahan pelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus.
e.       Menentukan penjajagan awal (preassessment) atau pretest, yaitu untuk mengetahui sejauh mana siswa telah memenuhi persyaratan belajar yang dituntut untuk mengikuti program pembelajaran. Dengan demikian, dalam pembelajaran guru dapat memilih materi yang dibutuhkan dan diperlukan tanpa harus menyajikan materi yang tidak perlu dan siswa tidak cepat bosan.
f.       Menentukan strategi pembelajaran dan sumber belajar yang sesuai. Kriteria umum untuk pemilihan strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus tersebut adalah: efisiensi, keefektifan, ekonomis, kepraktisan melalui status analisis alternative.
g.      Koordinasi sarana penunjang yang diperlukan, meliputi biaya, fasilitas, peralatan, waktu dan tenaga.
h.      Mengadakan evaluasi, yaitu untuk mengontrol dan mengkaji keberhasilan program serta keseluruhan, yaitu: siswa, program pembelajaran, instrument evaluasi dan metode yang digunakan.
2.      Saran
Inti dari belajar itu adalah perubahan. Jadi bagaimana seorang guru dapat merubah peserta didiknya dengan rancangan- rancangan pembelajaran yang dirancangnya. Guru- guru dapat berpedoman kepada model- model pembelajaran yang ada, dan guru harus pandai memilih model pembelajaran tersebut yang sesuai dengan apa tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

H.    Rujukan
Atwi Sparman. 2001. Desain Instruksional. Jakarta
Martinis Yamin. 2012. Desain Baru Pembelajaran Konstruktivistik. Jakarta: Referensi
Rusman. 2010. Model- model Pembelajaran. Depok: Raja Grafindo Persada
Smaldino, Sharon E, dkk. 2007. Instructional Technology And Media For Learning Ninth edition. New Jersey Columbus, Ohio: PEARSON Merrill Prentice Hall

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar